Bagi anda yang tinggal di D.I. Yogjakarta, mungkin bosan apabila pergi ke tempat yang itu itu aja, gak ada salahnya to sekali-kali wisata ke luar kota? ada sebuah tempat di Utara Yogyakarta yang sangat cocok dijadikan sebagai destinasi wisata. Sebuah telaga tersembunyi yang dijuluki banyak orang sebagai Ranukumbolo kedua, beralamat di Desa Batur, Banjarnegara yang juga berbatasan dengan Dieng, Wonosobo, jawa tengah.
Telaga ini dinamakan Telaga Dringo, dan mengapa tersembunyi? Karna akses untuk menuju Telaga tersebut cukup jauh dan sulit. Saat itu kuliah sedang libur, jadi saya bersama 5 orang teman memutuskan untuk berlibur, tepatnya pada bulan desember 2015 dan juga bertepatan dengan tahun baru, kami berlibur ke telaga dringo. Mengapa kami memilih telaga dringo? kami mendengar dari salah satu teman kami bahwa telaga dringo cocok untuk dijadikan destinasi wisata, tempatnya sejuk, bisa camping, telaganya bagus dan mirip dengan Ranukumbolo.Lokasi Telaga
Kami berangkat dari Yogyakarta tanggal 31 Desember 2015, pukul 22.00. Tersedia dua jalur menuju telaga dringo, jalur timur dan barat. Kami melalui jalur Timur yaitu Wonosobo-Dieng (Yogyakarta-Magelang-temanggung-Wonosobo-Dieng), Karena jalur barat Banjarnegara-Dieng akan sedikit memakan waktu perjalanan. Untuk sampai di Desa Batur, membutuhkan 5 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Ketika kita mulai memasuki kawasan Telaga Dringo, kita akan melewati jalan kecil, dipenuhi bebatuan dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil, dimalam hari lampu penerangan sangat minim, bahkan tidak ada, hanya lampu mobil yang menjadi sumber penerangan jalan kami. Suasana sekitar sangat sepi, tidak ada rumah warga, yang ada hanya pabrik-pabrik dan hamparan luas perkebunan. Dari sekian banyaknya wisata dieng, Telaga Dringo terletak paling ujung berbatasan dengan Banjarnegara. Pukul 04.00 keesokan harinya kami sampai di lokasi. Karna keadaan masih gelap gulita kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam mobil. Parkiran yang seadanya membuat para wisatawan harus berbesar hati berbagi tempat untuk parkir mobil. Bagi yang membawa motor parkirannya terletak agak dekan dengan Telaga, namun harus hati-hati, karna kondisi tanah yang sangat licin apabila basah terkena hujan. Pukul 05.30 kami turun ke Telaga, karna dari tempat parkir ke telaga masih membutuhkan waktu untuk berjalan kaki. Sunrise yang indah juga pagi yang cerah menyambut kedatangan kami. Rupanya bukan hanya kami yang datang pagi itu, terbukti dengan banyaknya wisatawan yang bermalam dan mendirikan tenda di sekitar Telaga.
Seperti Ranukumbolo? Memang benar, walaupun kami belum pernah menginjakan kaki di Ranukumbolo dan hanya melihatnya di TV ataupun media social. Telaga ini mirip dengan ranukumbolo yang dimiliki Gunung Semeru, suasananya sejuk, tenang, serta uap-uap yang terlihat ketika matahari menyinari Telaga. Kamipun tidak lupa untuk berfoto-foto. Namun sayang, tampaknya tempat wisata ini kurang di perhatikan oleh pemerintah, tidak seperti tempat wisata lainnya yang ada di Dieng. Terlihat dari akses menuju Dringo, dan juga sekitar Telaga yang masih banyak ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan liar tak terurus. Jam menunjukan pukul 08.00 pagi, kami memutuskan untuk mencari sarapan pagi dan mengunjungi wisata Dieng yang lain. Oh iya, janganlah membawa mobil yang pendek/ceper. Dikarnakan struktur jalan yang tidak memungkinkan untuk mobil2 yang ceper. Di tengah perjalanan terlintas dalam benak kami untuk dapat kembali menikmati keindahan Dringo, dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan YME atas salah satu nikmat-Nya tersebut.
Terimakasih telah membaca artikel Ranukumbolo KW dari Blog ini.
Mau nanya kak, kalo naik motor di malam hari apakah aman ? Di karenakan penerangan yang minim dan suasana yang sepi ?
ReplyDelete